Ide Cerdas Aksi Nyata untuk Agama dan Perekonomian

Kemarin-kemarin di timeline saya bersliweran teman-teman yang mengaku peduli dengan agama dan perekonomian. You guys, rocks! Really. Salut untuk kalian yang berbuat aksi nyata demi agama dan perekonomian Indonesia terutama karena saya belum berani melakukannya. Tapi guys, “cerdas” dan “nyata” menurut kalian dan menurut saya mungkin agak sedikit berbeda.

Di sini saya tidak bermaksud menilai kalian. Kalian saja yang menilai ide saya ini, cerdas dan nyata atau tidak: membuat fintech peer-to-peer lending berbasis syariah.

fintech-syariah

Salah satu ancaman yang mampu mengganggu kemapanan bank adalah fintech. Perusahaan-perusahaan rintisan yang memanfaatkan teknologi untuk melakukan bisnis yang sama dengan yang dilakukan oleh bank. Dua bidang bisnis bank yang riuh diramaikan oleh fintech adalah sistem pembayaran dan pembiayaan peer-to-peer. Lanjutkan membaca

GoPay, Calon Penguasa Sistem Pembayaran Elektronik di Indonesia

Catatan: Tulisan ini sudah mulai ditulis sebelum munculnya berita kemungkinan akuisisi GoJek atas layanan e-money PonselPay. Namun karena lambatnya proses penulisan, cerita ini menjadi agak basi dengan munculnya berita tersebut, apalagi (saya juga baru baca) Amir dari DailySocial, sudah pernah menuliskan opini yang serupa lima bulan yang lalu.

Pada triwulan II tahun 2016, PayPal, perusahaan teknologi yang memberikan layanan sistem pembayaran, menyimpan dana nasabah sebesar USD 13,02 miliar. Angka tersebut setara dengan Rp 171,32 triliun dan akan menempati peringkat kelima terbesar jika dibandingkan dengan dana nasabah yang dikelola bank-bank di Indonesia. Sementara Starbucks, warung kopi di mall-mall itu, memiliki dana kelolaan sekitar Rp 15 triliun, lebih besar daripada sebagian Bank menengah-kecil di Indonesia.

Jumlah dana kelolaan itu terbilang sangat besar untuk perusahaan non-keuangan. Katakanlah setengah dari dana tersebut mengendap dan disimpan oleh Starbucks dalam bentuk deposito dengan bunga 6% setahun, Starbucks bisa memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp 37,5 miliar sebulan. Itu tambahan pasif di luar bisnis warung kopi yang mereka lakukan. Apalagi jika Starbucks mempunyai unit bisnis treasury yang cerdas untuk mengelola dana tersebut. Dana nasabah yang mengendap tersebut menjadi dana pinjaman cuma-cuma untuk Starbucks dengan potensi keuntungan yang besar.

Potensi keuntungan tersebut menjadi lebih tinggi bagi Paypal. Selain karena dana kelolaan mereka nilainya lebih dari sepuluh kali milik Starbucks, Paypal juga memang bergerak di bidang finansial sehingga bisa lebih lincah dalam mengelola dana nasabah tersebut.

gojek

Potensi keuntungan tersebut sepertinya juga diincar oleh Gojek melalui GoPay-nya. Lanjutkan membaca