dalam Professional Opinion

Ini Dia Alasan Kenapa Sertifikasi itu Penting

Tak menunggu lama dalam euforia lulus ujian CISA sebuah reality check menghampiri. Reality check berupa sebuah pertanyaan sederhana: perlukah sertifikasi? Seorang senior di kantor dengan setengah bercanda (setengahnya lagi serius) mengatakan bahwa punya sertifikasi cuma berasa dalam dua kesempatan: saat orang-orang datang mengucapkan selamat dan setiap kali harus bayar iuran tahunan dalam dollar yang jumlahnya lumayan.

Untuk teman-teman yang bekerja di perusahaan swasta, sertifikasi setidaknya berguna sebagai modal bertemu dengan divisi Human Resource (HR). Entah ketemu dengan HR perusahaan sekarang atau HR perusahaan sebelah, sertifikasi berguna untuk menaikkan nilai tawar terutama saat negoisasi gaji. Namun untuk pegawai badan publik yang cenderung lebih statis, sertifikasi tidak bekerja seperti itu.

Sertifikasi sebagai Sebuah Standard

Sertifikasi bisa dibilang adalah suatu standard, sebuah standard kompetensi tepatnya. Untuk mendapatkan sertifikasi, seseorang harus membuktikan dirinya mempunyai skill dan knowledge tertentu sesuai dengan standard sertifikasi tersebut. Baik melalui ujian atau syarat-syarat tertentu lainnya.

Salah satu sertifikasi yang paling terkenal adalah gelar sarjana. Untuk memperoleh sertifikat berupa ijazah sarjana, biasanya seorang mahasiswa dituntut untuk mengambil mata kuliah dengan bobot tertentu kemudian membuktikan kompetensi yang telah didapatkannya dari mata kuliah-mata kuliah tersebut melalui tugas akhir.

Namun masalah muncul kemudian sebagaimana guyonan (namun benar, pahit memang) terkenal tentang standard. Masalah dengan sebuah standard adalah semua orang mempunyai standardnya masing-masing. Contoh yang paling menyebalkan adalah kabel USB yang seharusnya mempunyai kepanjangan Universal Serial Bus. Kata universal seharusnya bisa diartikan sebagai sebuah standard sehingga semua orang bisa memakainya. Namun ternyata, kemudian mereka menciptakan standard sendiri-sendiri berupa mini USB, micro USB, selain USB standard itu sendiri.

standards

Masalah yang sama juga dihadapi oleh sertifikasi sarjana, di mana dengan banyaknya universitas, perguruan tinggi, institut hingga sekolah tinggi, kita perlu melihat akreditasi dari sekolah asal tersebut untuk menaksir kompetensi sang sarjana. Ujung-ujungnya perusahaan masih perlu melakukan tes masuk hingga kelas trainee untuk benar-benar mengukur kompetensi calon karyawannya.

Masalah bertambah dalam bidang teknologi informasi yang luas dan berkembang secara cepat. Dari nama program studinya saja bisa berbeda-beda: Ilmu Komputer, Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, dan lain sebagainya. Belum lagi bidang ilmunya seperti pemrograman, jaringan, database, hardware dan sebagainya. Ibarat dokter, sarjana komputer hanyalah dokter umum. Masih perlu usaha lebih lanjut untuk menjadi spesialis dan ahli dalam salah satu bidang di teknologi informasi.

Salah satu caranya, ya meraih sertifikasi itu tadi. Sebuah standard lain yang diciptakan untuk mengatasi keberagaman standard lain seperti sarjana.

Ada banyak sertifikasi, beberapa diantaranya vendor-based seperti Cisco, Microsoft, Oracle, Adobe dan lain sebagainya. Sertifikasi vendor-based membuat pemiliknya diakui sebagai ahli dalam penggunaan produk dari vendor tadi. Bahkan untuk produk Microsoft Office saja ada sertifikasinya dari tingkat spesialis, expert, sampai dengan master. Pada level master, sepertinya seseorang telah mampu menguasai seluruh elemen Microsoft Office yang diperlukan untuk dapat mengalahkan Raja Api Oozai.

Sedangkan sertifikasi TI yang lain, lebih dekat kepada profesi seperti misalnya Certified Ethical Hacker, Certified Information System Auditor, Certified Data Centre Design Professional, Project Management Professional, dan lain sebagainya. Sertifikasi jenis ini, memastikan pemegangnya menguasai skill set dan knowledge yang diperlukan untuk menjalankan profesi terkait.

Proses Belajar

Sama seperti proses mendapatkan gelar sarjana, untuk mendapatkan sertifikasi juga diperlukan ujian untuk memastikan kandidat sertifikasi benar-benar kompeten. Karena itu, untuk dapat mengikuti ujian sertifikasi (dan berniat lulus), diperlukan sebuah proses belajar untuk mencapai level kompetensi minimal yang dituntut dari sebuah sertifikasi.

Proses belajar inilah yang menjadi manfaat langsung dan tak langsung dari sebuah sertifikasi. Mau tidak mau, jika ingin mendapatkan sertifikasi, kemampuan dan pengetahuan harus di-upgrade. Apalagi, setelah lulus pun, kebanyakan sertifikasi mensyaratkan adanya pendidikan berkelanjutan untuk menjaga sekaligus mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan. Dalam bahasa ISACA, hal ini disebut dengan Continuing Professional Education (CPE) yang harus dilaporkan oleh setiap pemegang sertifikasi ISACA setiap tahun.

Kembali pada pertanyaan perlukah sertifikasi, jawabannya tergantung pada jawaban pertanyaan perlukah mengembangkan diri. Jika sudah puas dengan kemampuan, pengetahuan, jabatan dan gaji sekarang ini, sertifikasi tidak terlalu diperlukan. Tapi jika pengembangan diri terus menerus (bahasa kerennya, continuing improvement) diperlukan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengambil sertifikasi.

Yang mungkin perlu diingat, perlu ada kesesuaian antara profesi yang dijalani serta minat yang dimiliki dengan sertifikasi yang diambil. Sehingga sertifikasi benar-benar dapat mendukung keseharian pekerjaan. Jika kemudian gaji bertambah dan level gengsi meningkat, anggap saja itu hanya sebagai bonus.

Note: Saya sebenarnya telah menyelesaikan tulisan ini agak lama, lebih dari sebulan yang lalu. Namun karena ide untuk judul yang tepat tak juga keluar, akhirnya tulisan ini teronggok begitu saja dalam draft. Saya ingin sebuah judul yang menggambarkan isi tulisan, yakni mengenai pentingnya sertifikasi, namun tidak ingin judul yang terlalu standard seperti “Pentingnya Sertifikasi”. Akhirnya, muncul lah ide untuk membuat judul layaknya berita media online, seperti yang Anda lihat sekarang ini. Sebenarnya, saya benci setengah mati kepada cara pemberian judul seperti ini. Masa bodoh, mari kita coba lihat dampak judul sesat seperti ini kepada pendapat pembaca tentang keseluruhan tulisan.

Tulis Komentar

Komentar