dalam Berbagi Cerita

Menjadi Hantu dalam Buku

dream

Ini sebuah pelajaran penting untuk Anda yang jago menulis: jika Anda tidak menulis sendiri buku Anda, mungkin orang lain akan menyewa Anda untuk menulis buku mereka. Dan Anda hanya akan menjadi hantu dalam buku itu, seorang ghostwriter.

Tak usah lagi mempermasalahkan tentang etika seorang ghostwriter. Mungkin bisa menjadi pemahaman Anda bahwa mempunyai ide untuk sebuah buku adalah satu hal, sedangkan menulis buku adalah hal yang lain lagi.

Di dalam gedung-gedung tinggi di daerah Sudirman-Thamrin sana, banyak karyawan yang terkadang dalam waktu sibuknya bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa saya di sini? Kenapa saya tidak memanfaatkan keterampilan menulis saya? Alih-alih menulis laporan yang membosankan tiap minggu, mungkin saya bisa menulis satu novel dan menjadi terkenal. Saya janji tidak akan membunuh banyak tokoh novel saya seperti yang George R. R. Martin lakukan..

Banyak yang berpikir seperti itu, tetapi pikiran itu larut bersama air seni ke dalam urinoir. Alasannya, karena tidak ada ide. Atau tidak ada keberanian untuk lebih fokus pada menulis. Tapi kebanyakan karena pikiran itu memang hanya muncul sambil menggoyang-goyangkan titit di depan urinoir.

Sebaliknya, di sisi lain banyak tante-tante sosialita, bapak-bapak pejabat, artis, pengusaha, yang berpikir untuk menulis buku, seringnya adalah biografi mereka. Mereka punya ide, tetapi tidak mempunyai banyak keterampilan menulis dan terutama tidak punya cukup waktu. Mereka ini berani membayar lumayan untuk ghostwriter untuk menerjemahkan ide mereka menjadi sebuah tulisan.

Tante-tante sosialita butuh eksistensi, sedangkan ghostwriter butuh uang. Sebuah pertukaran yang cukup adil. Pejabat punya ide, ghostwriter punya waktu dan keterampilan. Pengusaha membayar untuk jasa menulis yang ghostwriter lakukan.

Hal yang sama juga berlaku untuk dunia akademik. Membeli skripsi yang sudah jadi adalah sebuah dosa, namun meminta orang lain melakukan penelitian/programming/survey/wawancara berdasarkan konsep yang Anda buat, dan kemudian Anda masukkan dalam sebuah karya ilmiah tidaklah terlalu memalukan. Saya yakin hal ini sudah jamak dilakukan oleh beberapa master atau doktor.

Jadi, menjadi ghostwriter bukanlah suatu perbuatan tercela. Dosa besar akan Anda lakukan, jika gara-gara menjadi ghostwriter, Anda keasyikan hingga lupa untuk mempunyai buku sendiri.

Tulis Komentar

Komentar