Layanan Urun Dana Untuk Investasi

Tulisan ini terbit di Kompas tanggal 10 April 2021 halaman 13. 

Perkembangan teknologi finansial memperluas pilihan investasi bagi masyarakat umum. Setelah peer-to-peer lending, kini juga berkembang skema investasi lain dalam bentuk crowdfunding (urun dana). Selain sebagai instrumen investasi, urun dana juga memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah.

Skema urun dana memungkinkan masyarakat melakukan urunan untuk membiayai sebuah usaha. Contoh yang paling sederhana, investor dapat secara bersama-sama urun dana untuk memiliki usaha kost atau properti lainnya. Sebagai timbal balik, investor mendapatkan bagi hasil dari usaha yang dibiayai. Besaran bagi hasil ini bergantung pada perusahaan yang dibiayai, namun secara umum berpotensi lebih tinggi dari bunga deposito. Di sisi lain, usaha kecil mendapatkan kemudahan akses permodalan dibanding harus mengajukan kredit ke bank atau lembaga keuangan lainnya.

Urun dana bisa menjadi tren baru pada tahun 2021. Ketentuan baru yang diterbitkan OJK pada Desember lalu bisa menjadi katalis perkembangan industri urun dana. Berdasarkan ketentuan sebelumnya, perusahaan penerbit hanya dapat mengumpulkan dana dalam bentuk modal berupa saham. Namun berdasarkan Peraturan OJK tentang Penawaran Efek melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi, perusahaan penerbit dapat menerbitkan efek bersifat utang layaknya obligasi atau sukuk. Lanjutkan membaca

Mengejar Sertifikasi Auditor TI

CISA bukanlah gelar yang tepat untuk dibanggakan kepada orang tua, tak seperti saat seorang anak pulang sekolah dan mengabarkan pada orang tuanya, “Pak, aku rangking satu di kelas”. Kebanyakan orang tua akan bengong saat anaknya pulang ke rumah dan langsung berkata “Pak, aku lulus CISA, lho!”.

Namun, dengan gelar CISA (Certified Information System Auditor) bisa jadi pengetahuan dan wawasan bertambah, pekerjaan lebih mudah, dan karir gesit melangkah. Kalau sudah begitu, tentu orang tua juga menjadi bangga.

CISA Logo

Untuk bisa lulus CISA dan diakui secara internasional sebagai IT Auditor bersertifikasi, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi, lulus ujian CISA dan mempunyai lima tahun pengalaman sebagai Auditor IT. Syarat yang kedua relatif lebih mudah dipenuhi. Tiga diantara lima tahun pengalaman tersebut dapat disubstitusi: dua tahun disubstitusi dengan gelar sarjana ditambah satu tahun pengalaman sebagai audit non-IT atau pekerjaan terkait IT lainnya.

Seorang sarjana Ilmu Komputer dengan pengalaman minimal satu tahun sebagai programmer, tinggal mengejar dua tahun pengalaman sebagai IT auditor. Oh ya, dan harus lulus ujian CISA.

Ini bagian yang rada sulit. Ujian CISA terdiri dari 200 soal dalam waktu 4 jam (setiap soal hanya punya waktu satu menit lebih sedikit). Soal berupa pilihan ganda dalam bahasa Inggris (kecuali buat yang jago bahasa Mandarin, mungkin bisa mempertimbangkan untuk ujian dalam bahasa Mandarin). Ada lima domain area yang diujikan dengan persentase yang berbeda-beda.

Rada sulit, karena tidak tepat rasanya kalau disebut sangat sulit. Faktanya, pada Juni 2007, di Hongkong, 187 peserta berhasil lulus dari 392 orang yang mengikuti tes (47,7%). Sedangkan pada Desember 2007, presentase kelulusan meningkat tipis dengan 49% (154 dari 312) peserta lulus. Sayangnya, ISACA Indonesia tidak merilis statistik yang serupa sehingga kondisi di Indonesia tidak dapat digambarkan. Tetapi dari data di Hongkong menunjukkan bahwa hampir separuh peserta bisa lulus. Setidaknya tingkat kesulitan CISA tidak pake banget. Lanjutkan membaca