Kenapa Anda Tidak Seharusnya Meminjam Kepada Pinjaman Online Ilegal

Anda sedang butuh uang. Kebetulan Anda punya teman yang rese namun kaya. Teman Anda bersedia meminjami Anda uang tapi dengan bunga yang besar. Karena Anda kepepet, Anda sepakat dengan beban bunga tersebut dan berjanji membayar bulan depan.

Namun sampai akhir bulan berikutnya, Anda belum bisa membayar pinjaman tersebut. Entah karena Anda salah menghitung kemampuan keuangan Anda atau memang pada dasarnya Anda besar pasak daripada tiang. Teman Anda itu lalu marah-marah. Dan karena pada dasarnya dia emang rese, dengan sengaja dia menagih hutang Anda di grup WhatsApp almamater. Plus bonus berupa hinaan Anda dapatkan karena gagal membayar hutang.

Anda tidak terima dengan kelakuan teman Anda lalu menyalahkan OJK.

Kalau kalimat terakhir terasa konyol, percayalah, menyalahkan OJK karena Anda ditagih pinjaman online juga sama konyolnya. Kasus seperti ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Yang menagih bisa siapa saja: entah teman Anda, rentenir, atau pinjaman online. Ketiga mempunyai persamaan: Anda membawa uang mereka. Tindakan penagihan yang diluar batas memang tidak dapat dapat dibenarkan, tetapi meminjam uang lalu tidak mengembalikannya juga bukan hal yang benar. Sejak awal, Anda sebaiknya memang tidak meminjam uang kepada pinjaman online ilegal.

loan-shark-cover-01_1_orig

Alasan pertama, pinjaman online juga tidak diatur dan diawasi oleh OJK. Sama halnya dengan teman Anda yang rese tadi dan juga rentenir. Yang diatur oleh OJK, berdasarkan Peraturan OJK No. 77/POJK.01/2016, adalah peer to peer lending (P2P lending). Perbedaan antara P2P lending dengan pinjaman online biasa terletak terutama pada sumber dana pinjaman. P2P lending mempertemukan antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Artinya, uang yang dipinjamkan berasal dari pemberi pinjaman bukan dari P2P lending itu sendiri. Sedangkan pinjaman online memberi pinjaman dari uang mereka sendiri. 

Sumber dana pinjaman ini yang menjadi dasar mengapa OJK mengatur dan mengawasi P2P lending. Pada model bisnis P2P lending, ada dana masyarakat yang disalurkan melalui P2P lending. OJK berkepentingan agar dana ini bisa kembali kepada pemiliknya sesuai dengan kesepakatan antara para pihak yang terlibat. Konsep ada dana masyarakat yang dihimpun juga menjadi dasar kenapa OJK mengawasi bank, asuransi dan pasar modal.

Lanjutkan membaca

Kearifan Kecap Lokal

Salah satu oleh-oleh mudik yang cukup sering saya bawa dari Kudus adalah kecap. Kecap bukan sembarang kecap, tapi Kecap No. 1 cap THG. Saya tahu kalau semua kecap memang mengaku sebagai yang nomor satu. Tapi bagi lidah saya, kecap ini memang nomor satu. Mulai dari sejak kuliah di Yogyakarta hingga lebaran yang baru saja berlalu, saya beberapa kali membawa sebotol kecap ini ke perantauan.

Di luar Kudus, kecap THG memang tidak mudah untuk ditemukan. Kemungkinan karena rasanya tidak terlalu cocok dengan selera kebanyakan orang. Kecap THG kental dan manis, yang bagi banyak orang (orang Jawa sekalipun) mungkin terlalu manis. Hanya orang Kudus yang merasa cocok dengan rasa manis ini. Mungkin saja, ini sekedar pendapat, bisa jadi benar bisa juga ngawur: rajin mengkonsumsi kecap ini sejak kecil adalah rahasia kenapa saya manis banget.

Sepanjang ingatan saya, kecap ini selalu dipakai oleh keluarga saya. Membawa kecap THG ke perantauan adalah salah satu cara sederhana untuk bisa merasakan “rumah”. Sekedar tempe, tahu, atau telur ceplok, dengan nasi dan kecap ini, adalah kehangatan bagi mereka yang merindu.

Kecap THG Kudus

Lanjutkan membaca

Tafsir Ulang Tata Kelola Risiko Siber

Terpaan gelombang revolusi industri keempat mengubah layanan bank menjadi lebih digital. Perubahan tersebut bisa menjadi mata pisau bermata dua bila tanpa diiringi penguatan pada keamanan siber (cyber security). Hal ini sesuai konsep Klaus Schwab, disrupsi revolusi industri keempat tak hanya mencakup aspek produksi. Disrupsi juga terjadi pada aspek manajemen dan tata kelola termasuk untuk risiko siber.

Bagi beberapa pakar, “aman” dalam konteks siber adalah sebuah keajaiban. Menurut mantan direktur FBI, Robert S. Mueller, hanya ada dua jenis perusahaan yang ada di dunia ini. Yang pertama adalah perusahaan yang pernah diretas sedangkan sisanya adalah perusahaan yang akan diretas. Mantan CEO Cisco Systems, John T. Chambers punya pendapat lain yang lebih mengkhawatirkan. Dua jenis perusahaan di dunia ini adalah perusahaan yang telah diretas dan yang belum sadar kalau sudah diretas.

Pernyataan terakhir tersebut terasa berlebihan. Namun faktanya, butuh rata-rata 191 hari sejak peretasan sampai pemilik sistem sadar sistemnya telah ditembus. Angka tersebut adalah hasil penelitian oleh Ponemon Institute LLC dan IBM Security dalam 2017 Cost of Data Breach Study. Penelitian itu juga menyarankan agar angka tersebut ditekan sampai dibawah 100 hari. Semakin lama kebocoran sistem diketahui, semakin besar kerugian yang dialami oleh perusahaan. Untuk kebocoran sistem yang diketahui setelah lebih dari 100 hari, rata-rata kerugian yang diderita sekitar 3,83 juta dollar Amerika. Angka kerugian tersebut 37% lebih besar daripada jika kebocoran sistem diketahui sebelum 100 hari.

Kerugian pada industri perbankan dapat lebih besar daripada rata-rata tersebut karena berdampak langsung secara finansial. Agustus lalu, Cosmos Bank menderita kerugian sebesar 13,5 juta dollar Amerika dalam sebuah insiden serangan siber. Sistem kartu kredit bank asal India tersebut diserang dengan menggunakan malware. Pelaku lalu menyalin data kartu nasabah. Dengan data tersebut, pelaku melakukan transaksi ilegal dalam bentuk transfer senilai 2 juta dollar serta penarikan ATM di 28 negara senilai 11,5 juta dollar.

Serangan tersebut adalah serangan kedua yang terjadi di India pada tahun ini saja. Sebelumnya, City Union Bank juga mengalami serangan serupa dengan nilai kerugian sekitar 2 juta dollar Amerika. Para pakar keamanan percaya bahwa kedua serangan tersebut diawali dari celah keamanan yang ada pada sistem pembayaran SWIFT yang juga digunakan oleh sistem perbankan di seluruh dunia.

Cerita seperti tersebut di atas tidak (atau belum) pernah terdengar di dunia perbankan Indonesia. Namun berdasarkan dua pernyataan di awal tulisan, kemungkinannya ada dua: ada bank yang akan segera ditembus atau sebenarnya ada bank yang sudah ditembus namun belum menyadarinya. Untuk menghadapi ancaman seperti itu, sekedar aman bisa jadi tak cukup. Setiap bank harus mengembangkan ketahanan siber (cyber resilience).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh bank dalam mengembangkan ketahanan siber. Lanjutkan membaca

Mengakali SMS Penipuan

“Selamat no anda mndpt hadiah mobil ALLNEW SIENTA dr LAZADA PIN:1JH76KT9 Info klik:www.kejutanlazada72.blogspot.com

Dalam satu kerlingan, normalnya orang akan langsung tahu bahwa SMS tersebut adalah sejenis penipuan. Lazada tidak mungkin menggunakan domain gratisan semacam blogspot untuk mengumumkan hadiah kejutannya. Seringnya, SMS seperti itu akan langsung diabaikan oleh penerimanya.

Kejanggalan lebih banyak ditemukan dalam situs blogspot penipu itu. Simak kalimat-kalimat ini:

“…UUD No.32 Pasal 331 Ayat 23, Tentang Kecemburuan Sosial Sesama Masyarakat…”

“..untuk pencairan hadiah dari LAZADA melalui BANK INDONESIA…”

Hadiah diantarkan langsung ke alamat pemenang melalui jasa penerbangan, dengan menggunakan pesawat kargo BOEING C.130 dari bandara Halim Perdana Kusuma menuju ke bandara atau lapangan penerbangan yang terdekat di daerah pemenang

Kalimat pertama jelas salah karena kita cuma satu punya satu UUD, tidak ada UUD no. 32. Sedangkan Bank Indonesia adalah bank sentral, bukan bank transaksional yang mau repot-repot mengurus pencairan hadiah. Kalimat ketiga sesungguhnya adalah ide imajinatif yang mengagumkan. Kalimat tersebut sangat keren sehingga mungkin tampak benar-benar nyata. Tetapi, selain hal itu tak mungkin dilakukan, C130 Hercules adalah buatan Lockheed Martin, bukan buatan Boeing.

Orang bodoh seperti apa yang membuat penipuan yang begitu jelas seperti itu? Berlawanan dengan apa yang dipikirkan sebagian  besar orang, pak Edy (si penipu, mari kita sebut saja begitu sesuai dengan nama yang tertulis di blogspot, meskipun kemungkinan besar itu nama palsu) adalah orang yang cukup pintar. Lanjutkan membaca

Bijak Menyikapi Bunga Tinggi Fintech

Sebagai industri yang masih berkembang, fintech lending terbebani dengan label berat sebagai terobosan dalam bidang keuangan. Label tersebut membuat nasabah berharap atas layanan jasa keuangan yang lebih baik daripada yang sudah ada. Bayangan atas fintech adalah layanan yang cepat, praktis, dan juga murah. Pada industri yang masih dalam fase pengembangan, ekspektasi tersebut dengan segera berbuah keluhan.

Fintech lending digadang-gadang sebagai sumber pendanaan alternatif selain bank dan lembaga jasa keuangan tradisional lainnya. Dibandingkan dengan leluhurnya tersebut, fintech menawarkan layanan yang serba online dan digital. Dengan demikian, proses pemberian kredit diharapkan dapat berlangsung dengan cepat dan mudah. Selain itu, proses secara online memberikan kesan adanya efisiensi operasional sehingga overhead cost dapat ditekan.

Biaya yang lebih murah tersebut langsung dibaca sebagai potensi untuk mendapatkan bunga yang lebih murah. Padahal, overhead cost hanyalah salah satu komponen penyusun bunga. Ada tiga komponen lain yakni margin, cost of fund, dan risk premium. Komponen margin dapat dianggap sama dengan perusahaan lain karena pada dasarnya kebijakan untuk menekan margin tergantung pada masing-masing perusahaan. Tingkat suku bunga fintech menjadi tergantung pada cost of fund dan risk premium. Lanjutkan membaca

Adek, Antara WhatsApp Abang dan Tas Pumping

Ini kedua kalinya aku ada di belakang mbak ini saat di kereta. Dan di kereta yang penuh banget seperti ini, aku tidak bisa tidak ikut membaca chattingan-nya.

Bahkan sebenernya, aku justru malah nggak hapal mukanya. Terutama karena dia pakai masker sepanjang di kereta. Aku mengingatnya justru karena chattingan-nya. Dalam dua kesempatan itu, mBaknya selalu chatting dengan seseorang yang kontaknya disimpan dengan nama “Pak Fadli BPAD”. Tapi di dalam chatting yang intense itu, pak Fadli dia sapa dengan sebutan “Abang”.

Pas pertama kali ketemu lebih dari sebulan yang lalu, pak Fadli atau agar lebih enak saya juga ikutan sebut Abang, sedang galau karena sesuatu entah apa. Adek (begitu si mbak menyebut dirinya dalam chatting dan begitu pula Abang memanggilnya), menasehati Abang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Abang pun setuju, Abang mau menyerahkan semua masalahnya kepada Tuhannya.

Dalam chatting itu, Abang – Adek ini begitu religius. Tapi sebagai orang yang berpengalaman dalam ribuan proses pedekate, aku nggak sepercaya itu dengan Abang. Itu biasanya hanya sebuah trik agar kelihatan religius saat mendekati cewek yang kelihatan religius. Kebetulan Adek tampak religius dengan jilbabnya.

Hari ini, begitu pintu kereta menutup di stasiun Kebayoran Lama, Adek langsung merogoh hapenya, sebuah iPhone. Dibukanya chatting dengan Abang, dan dia bertanya “Abang di mana?”. Aku nggak sempat baca balasan dari Abang karena Abang nggak langsung membalas. Setidaknya sampai kereta nyampai stasiun Palmerah. Setelah dari stasiun Palmerah aku nggak lagi ada di belakang Adek.

Tapi hari ini aku jadi tahu kalau Abang – Adek ini kerja di tempat yang sama. Antara Kebayoran – Palmerah tadi aku melihat Adek punya grup wasap dengan nama “BPAD – DKI”. Setelah aku gugling barusan, BPAD adalah Badan Pengelola Aset Daerah, kantornya di Jalan Abdul Muis nggak terlalu jauh dari stasiun Tanah Abang. Jadi wajar kalau Abang dan Adek jadi deket, namanya juga temen kantor.

Yang bikin kedekatan mereka menarik bagiku adalah bawaan Adek saat naik kereta. Dalam dua kesempatan itu, Adek selalu membawa tas yang aku kenali sebagai tas pumping. Banyak ibu-ibu di kereta yang membawa tas sejenis. Isinya biasanya adalah botol kaca kosong saat berangkat kantor. Saat pulang, botol kosong itu menjadi berisi ASI, yang diperas dari tubuhnya sendiri saat di kantor. ASI itu menjadi bekal makanan untuk bayi mereka selama ibunya kerja.

Lanjutkan membaca

Analisa Hype Cycle dalam Cryptocurrency

Perkembangan internet hingga menjadi teknologi yang digenggam sekaligus menggenggam manusia, diwarnai oleh noktah kelam bernama Dotcom Bubble. Ketika akhirnya Dotcom Bubble tersebut pecah, triliunan dollar investasi menguap begitu saja. Namun pecahnya Dotcom Bubble tersebut tidak menjadi akhir internet dan justru menjadi awal perkembangan yang lebih stabil setelahnya. Perusahaan-perusahaan yang selamat dari krisis tersebut, seperti e-Bay dan Amazon, kini menjadi raksasa dengan pemiliknya menjadi bagian dari kelompok orang terkaya dunia.

Internet yang awalnya hanya digunakan untuk kepentingan riset dan militer, pada akhir millenium yang lalu mulai dikembangkan untuk publik dan dikomersialkan. Pada saat itu, internet dianggap sebagai teknologi inovatif dengan prospek yang cerah dan menjanjikan sehingga ratusan perusahaan baru (startup) muncul untuk membangun layanan berbasis internet. Para investor yang terpesona berani menanamkan dananya pada startupstartup yang belum memiliki pendapatan yang tetap, beberapa bahkan belum memiliki produk ataupun model bisnis yang jelas.

Beberapa startup tersebut pada akhirnya gagal membukukan laba dan hanya membakar modal dari investor untuk terus beroperasi. Ketika bahan bakar habis, roda perusahaan pun berhenti berputar. Banyak perusahaan yang pada puncaknya mempunyai kapitalisasi pasar hingga ratusan juta dollar berubah menjadi seharga kayu kering hanya dalam beberapa bulan.

InfoSpace contohnya, harga saham perusahaan mesin pencari ini mencapai puncaknya pada Maret 2000 sebesar 1.305 dollar per lembar saham namun menukik kurang dari dua tahun menjadi hanya sebesar 2 dollar per lembar saham. Sedangkan Webvan, sebuah toko online yang menjanjikan pengiriman dalam waktu 30 menit, berhasil menarik modal 396 juta dolar dari modal ventura serta 375 juta dolar pada saat IPO tahun 1999. Namun, hanya dalam waktu 3 tahun sejak beroperasi yakni pada tahun 2001, Webvan menyatakan bangkrut dan sekarang melebur dalam Amazon.

Beberapa perusahaan berhasil bertahan melewati pecahnya dotcom bubble tersebut dengan mempunyai produk dan model bisnis yang berkelanjutan. Dan yang seperti kita tahu dan manfaatkan sekarang, internet menjadi salah satu inovasi terbesar dalam peradaban manusia. Dotcom bubble hanya sekedar hype berlebihan yang dilakukan manusia (mungkin salah satunya akibat ketamakan) dalam menanggapi sebuah inovasi dan teknologi baru.

Hype Cycle

Gartner, konsultan teknologi asal Amerika Serikat menggambarkan siklus perkembangan sebuah teknologi dalam grafik yang mereka sebut dengan hype cycle. Masa hidup sebuah teknologi dibagi menjadi lima fase yang masing-masing disebut dengan Technology Trigger, Peak of Inflated Expectations, Trough of Disillusionment, Slope of Enlightenment, dan Plateau of Productivity.

Pada fase Technology Trigger, sebuah teknologi baru diperkenalkan. Pada fase ini biasanya belum terdapat produk yang bisa dimanfaatkan. Potensi komersialisasi pun belum terbukti. Namun demikian, potensi atas apa yang dapat dilakukan teknologi tersebut berkibar berkat ketertarikan media dan uji coba awal teknologi tersebut. Akibat booming cerita keberhasilan produk baru tersebut, harapan publik melambung dan membuat teknologi tersebut menjadi terkenal dalam fase Peak of Inflated Expectations. Pada fase ini, beberapa investor yang cukup berani sudah mulai masuk untuk memberikan pendanaan. Lanjutkan membaca

Memberikan Ruang untuk Inovasi dalam Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan

We didn’t do anything wrong, but somehow we lost. Kalimat tersebut diucapkan oleh Stephen Elop, CEO Nokia, untuk menutup konferensi pers pada saat mengumumkan akuisisi Microsoft atas perusahaannya. Tak ada hal yang salah yang dilakukan Nokia saat mereka menguasai penjualan handphone di dunia. Namun, mereka terlambat belajar dan berinovasi, dan tiba-tiba saja Nokia sudah tersingkir dari kompetisi.

Pada era ini, inovasi dan perubahan terjadi dengan sangat cepat, terakselerasi oleh perkembangan teknologi internet dan perangkat mobile. Sementara e-commerce disebut-sebut mematikan toko retail tradisional, GoJek menantang kemapanan BlueBird sebagai penyedia transportasi andalan. Jumlah majalah dan koran yang berhenti menerbitkan edisi cetak sudah tak terhitung lagi, karena terdesak oleh media online.

regulatory-sandbox

Industri keuangan barangkali memang sedikit lebih tahan terhadap perubahan dibanding industri lainnya. Namun demikian, tantangan yang dihadapi lembaga keuangan sebenarnya sama dengan industri lain: konsumen ingin praktis dan cepat serta kalau bisa lebih murah. Hal tersebut harus dimengerti oleh lembaga jasa keuangan dan menjadi dasar melakukan inovasi. Kalau tidak, lembaga keuangan bisa tergilas oleh kompetisi, baik dengan startup yang jauh lebih kecil maupun dengan sesama lembaga keuangan.

Dalam kompetisi tersebut, lembaga pengawasan berkepentingan untuk memastikan perlindungan nasabah, integritas sistem keuangan (kaitannya dengan pencucian uang dan pendanaan terorisme) serta stabilitas ekonomi secara umum. Hal tersebut harus dilakukan dengan tetap memberikan ruang kepada pelaku jasa keuangan melakukan inovasi. Caranya adalah dengan memastikan adanya aturan main yang adil (level playing field) antara lembaga keuangan existing dengan pemain baru (startup fintech) serta adanya kebijakan terhadap inovasi. Lanjutkan membaca

Sepatu

WhatsApp Image 2017-07-29 at 13.08.54

“Kalau kita ketemu dalam keadaan yang berbeda, kita bakal pacaran nggak ya?”

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, meluncur begitu saja tanpa aba-aba darimu. Pertanyaan itu mengagetkanku setidaknya karena dua hal. Yang pertama, kamu sudah memecahkan sepi yang aku nikmati. Sepi yang tercipta semenjak kita berdua tiba. Aku memilih sunyi, kamu juga tak mengucap kata. Dinding yang mencoba menguping dari tadi hanya mendengar hening. Pertanyaanmu membuat sepi pecah berkeping.

Yang kedua, pertanyaan itu mengagetkan karena pertanyaan itu ada di urutan pertama, setidaknya ada di tiga besar dalam daftar pertanyaan-yang-tidak-boleh-ditanyakan-dalam-hubungan-kita. Saingan utamanya adalah “Apakah kamu sayang padaku?”. Sungguh pun berkali terlintas dalam pikiranku, tak ada berani aku menanyakannya padamu.

“Kamu nembak aku?”, jawabku. Lanjutkan membaca

OJK dan Financial Technology

Runtuhnya bisnis Seven Eleven menjadi pembahasan yang seru pada hari-hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran 2017 kemarin. Kejadian tersebut menarik dibicarakan karena pada saat kemunculannya, Seven Eleven banyak dipuji sebagai pivot bisnis yang berhasil dari bisnis fotografi analog yang memudar atas nama Fuji Film, menjadi tempat nongkrong yang populer pada kalangan muda dengan brand Seven Eleven. Beragam kalangan mulai yang pakar sampai yang sekedar sok tahu, mengeluarkan analisanya mengenai kegagalan Sevel bertahan.

Salah satu pakar tersebut adalah Profesor Rhenald Kasali melalui tulisan di kompas.com yang berjudul “Regulator, Belajarlah dari Kasus Sevel”. Seperti sudah tergambarkan secara eksplisit dalam judulnya, Prof. Rhenald menyalahkan regulator (dalam hal ini Kementrian Perdagangan dan Kementrian Pariwisata) yang menghambat inovasi bisnis Sevel. Beliau lalu meminta regulator lain untuk tidak mengulang dosa tersebut.

Saya begitu menghormati Profesor Rhenald dari tulisan-tulisan sebelumnya di kompas.com. Analisanya cerdas sekaligus mudah dimengerti bahkan oleh mereka yang pengetahuan ekonominya pas-pasan. Namun demikian, untuk tulisan yang satu ini, saya merasa ada hal yang kurang pas yang beliau gunakan untuk menguatkan kesimpulannya mengenai dosa-dosa regulator. Saya mengutip beliau: “Perilaku kaku seperti ini juga  sering kita dengar dilakukan para auditor OJK yang amat menghalangi inovasi di dunia perbankan untuk menjelajahi fintech.”.

Mungkin profesor Rhenald yang sekaligus merupakan praktisi di bidang perbankan, punya contoh konkrit mengenai perilaku yang beliau sebut kaku tersebut. Sayangnya, contoh konkrit tersebut tidak dijelaskan, melainkan hanya mengulang-ulang menyebut industri keuangan sebagai salah satu yang lamban berkembang karena ulah regulator-nya.

OJK dan fintech

Masalahnya, frase yang digunakan profesor Rhenald itu begitu kuat dan dengan didukung oleh kredibilitas keilmuan beliau, dapat memberikan kesan yang membekas di masyarakat. Padahal senyatanya, banyak hal yang telah dilakukan OJK dalam mendukung perkembangan fintech. Tanpa mengurangi hormat saya terhadap beliau dan kepakarannya, saya mencoba menjelaskan apa yang sudah dilakukan OJK terhadap perkembangan financial technology di Indonesia.

Dukungan OJK terhadap fintech yang tak banyak diketahui oleh masyarakat adalah boleh digunakannya saluran e-channel sebagai mekanisme bertatap muka dengan nasabah saat nasabah pertama kali membuka rekening. Lanjutkan membaca